40 tahun Proses Kreatif Sirkus Barock – Part 5

40 tahun Proses Kreatif Sirkus Barock – Part 5

Cerita dari Konser
40 tahun Proses Kreatif Sirkus Barock
ada peristiwa dan cinta di dalamnya

Nama Nusa Etnik ini setahu saya dipakai Denny Dumbo setelah peluncuruan album kompilasi Tiga Melukis Langit, diproduksi Sirkus Barock beberapa tahun lalu. Seperti mengulang sebuah cerita, Denny memanggil kembali teman-teman musisinya yang berjumlah 12 orang yang dulu pernah dilibatkan untuk merekam lagu “in progress”. Di dalamnya ada Ruben Pangingkayon (gitar), Dibyo (bass & gong elektronik), Jaeko dan kawan-kawan (gamelan), Sprit (perkusi) Winan (keyboard), Faiz Wong (drum) dan Renata sebagai sinden.

Perpaduan secara fisik antara alat musik diatonis dan etnis seperti ini tampaknya menjadi hal yang selalu menarik bagi Denny, ini terbukti dalam setiap karyanya, dengan telaten ia memadukan alat-alat musik ini dalam beberapa hadiran unisono atau bahkan tuti, walaupun alat-alat musik tadi memiliki tangga nada yang berbeda dengan varian selisih frekuensi di setiap nadanya, tak menjadi halangan berarti.

 

Denny Dumbo dan Nusa Etnik (foto: Budi Adi Susanto)

Tuntas sebagai group terakhir dari 9 band, Nusa Etnik berhasil membuat puncak yang membahagiakan sebelum penonton terpuaskan bersama Sirkus Barock. Namun tetap tegang buat saya, saat menemukan diri saya terlampau asik menikmati Nusa Etnik, dan kemudian tiba waktu Sirkus Barock akan melakukan persiapan, ternyata saya belum mengeluarkan keyboard dan pedal dari tasnya, lalu dengan terburu-burulah saya dibantu seorang koordinator kru bernama Mas Mus. Untunglah, akhirnya terkejar juga waktu yang singkat itu dan Sirkus Barock melaju.

“… Sawung Jabo, meskipun sekarang usianya 65 tahun namun semangatnya bermusik sungguh luar biasa, power suaranya amazing, konsernya bersama Sirkus Barock yang bertema 40 tahun proses kreatif Sirkus Barock di hari kamis 27 Oktober 2016 di Taman Budaya Yogyakarta lalu merupakan pertanggungjawabannya dalam bermusik yang telah dijalaninya selama ini. ACP mas Jabo…!”

begitulah setidaknya, ini saya kutip dari sebuah caption di facebook, ditulis oleh Dwikoen Sastro yang selama ini selalu setia bersama lensa-lensanya, mendampingi Sirkus Barock di setiap proses kreatif dan konsernya.

Sebelum memulai lagunya, Bramantyo Prijosusilo sempat memaparkan pada penonton tentang bagaimana disiplin Sirkus Barock saat berproses. Ini mengingatkan saya saat Sirkus Barock latihan, sembilan lagu terpilih dilatih, empat lagu cadangan dipersiapkan, tampak sekali wajah penonton yang tak sabar menyaksikan, panggung yang sudah hangat siap dipanaskan. Dari sisi yang berlawanan dengan penonton, saya bisa melihat jelas, teman-teman musisi telah siap, dan mengalunlah lagu-lagu sebanyak sembilan saja, tak lebih. Mengalun dari awal, delapan lagu utama “Saat 1973”  “Anak Setan”  “Lagu Pemabuk”  “Kemarin dan Esok”  “Di hatiMU Aku Berlindung”  “Petualangan Awan”  “Hio”  “Lingkaran Aku Cinta Padamu” dan satu lagu cadagan “Jula-Juli Anak Negri”.

Sawung Jabo di usianya yang ke 65, konser ini (foto: Dwikoen Sastro)

Tiba waktu lagu Petualangan Awan, lagu yang lembut, Cak Jabo memanggil seorang anggota Sirkus Barock generasi pertama, yha tahun 1976, Suzan Piper, yang tidak lain adalah istri Cak Jabo Sendiri. Kehadiran mbak Sue, begitu kami memanggilnya, membuat suasana seolah berputar balik, just like a regression, bagaimanapun juga, beliaulah yang mungkin memberi kontribusi paling besar untuk Sirkus Barock dari awal terbentuk hingga saat ini.

Sue Piper dan Sinung Garjito berbagi microphone (foto: Dwikoen Sastro)

Suasana malam itu pecah di lagu Hio, begitu irama khas lagu ini menggelinding, spontan penonton berdiri sambil melakukan tarian khas pula, sangat unik, ada satu orang penonton yang selalu khas tariannya untuk Hio ini, sebut saja Ampun Sutrisno, dia adalah seniman/perupa senior di Yogyakarta. Saya sering sekali melihat tarian khas ini saat Sirkus Barock pentas di jogja. Terlihat tim produksi mulai menertibkan para penonton yang terlampau keluar dari area agar tidak menggangu penonton lainnya, terlihat sibuk benar mereka ini, khususnya bagian yang bertanggung jawab soal keamanan di area dalam dan bibir panggung. Namun demikian tarian khas ini sungguh ikut mengantarkan seluruh musisi pada saat yang sangat berbahagia, sambil mengendurkan syarafnya.

Tidak hanya musisi, lagu Hio ini juga memberi ruang bagi teman-teman setting untuk leluasa memainkan “wayang” mereka. Benny, Ujang, dan teman-teman lain ikut kendur syarafnya, Moechalmad Jibna yang berada di belakang dimmer lightingpun demikian. Namun tidak bagi Mas Felix dan Gatot yang berada di belakang mixer FOH, Bayu dan Louis di bagian rekaman, mereka harus tetap waspada mengontrol bunyi-bunyi dari panggung agar tetap terkirim dengan indah ke telinga penonton.

Saat lagu terakhir dimainkan, penonton masih saja haus, masih saja sepertinya ingin menuntaskan malam itu dengan lebih banyak lagu, dan sebenarnya sayapun merasakan demikian. Terdengar dari depan panggung, penonton yang sedari tadi berdiri dengan kompak dan semangat menyanyikan lagu “Kuda Lumping”, namun tidak merubah keputusan Sawung Jabo dan tim produksi yang juga harus mempertimbangkan keterbatasan waktu. Saya sendiri seolah memaklumi perasaan penonton waktu itu, bagaimana tidak? Sirkus Barock terbiasa membawakan lagu dengan jumlah paling sedikit 15 lagu pada setiap konser tunggalnya. Pernah juga hingga 24 lagu, dan kali ini hanya sembilan, dan ditambah sembilan lagu dari sembilan penampil awal tadi. Sumpah…! Saya sendiri masih merasa kurang.

Sirkus Barock  [foto: Kaprikorn]

Saya merasakan sembilan lagu ini secara detail, bahkan saya menikmatinya dari ketukan demi ketukan hingga nada demi nada, mendengarkan bentuk permainan dari hampir semua musisinya, karena saya tidak mau kehilangan momen ini. Seperti yang Sawung Jabo utarakan, setelah konser ini Sirkus Barock akan rehat untuk waktu yang seberapa lamanya belum dapat ditentukan, serupa orang berlari, mungkin pelan sejenak untuk kemudian duduk mengambil nafas lega, lalu berlari lagi, mengarungi, menarungi, dan memaknai hidup.

Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin bercerita tentang konser-konser Sirkus Barock, rupanya konser kali ini yang bisa membuat saya mau berbicara. Banyak yang telah saya dapat dengan keterlibatan saya selama ini bersama Sirkus Barock.

Baiklah, akan saya akui saja, karena cerita ini banyak memuat pendapat dari sudut prespektif saya pribadi, janganlah sodara sekalian mengambil hati jika ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan realita, cerita saya takkan jadi kebenaran mutlak, namun setidaknya saya menyampaikannya secara apa adanya. Sampai jumpa di cerita Konser selanjutnya. (BMA)

About The Author

Related posts

Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *